“GILAAAA INI KEREN BANGETTTT SELAMA INI KEMANA AJA WOII BARU SEKARANG BACA INI???”
Nah iya. Itu yang terlintas di pikiranku ketika baca buku “Hujan” karya Tere Liye. Awalnya aku nggak terlalu tertarik baca buku” nya Tere Liye karena banyak orang yang ngebicarain Tere Liye, dan aku jadi.. ya.. nggak ada interest aja, jadi nggak penasaran lah.
Tapi akhirnya aku baca juga buku ini karena rekomendasi sepupuku (thank you sis!). Aku baru selesai baca hari ini (25 Juni 2022) dann ternyata ceritanya KEREEEEN BANGET.
(spoiler alert)
Bercerita tentang Lail, perempuan 13 tahun yang kehilangan ibunya–dan ayahnya yang lagi di luar kota–karena letusan gunung dan gempa berkekuatan 10 SR. Ajaibnya, Lail yang sedang ada di lorong kereta bawah tanah bisa selamat dan bertemu dengan Esok, yang juga selamat dari lorong bawah tanah itu. Sedangkan petugas kereta dan penumpang lain sisanya tidak ada yang selamat karena tidak sempat mengevakuasi diri ke permukaan tanah, salah satu dari mereka adalah ibu Lail.
Lail kemudian menjalani hari - harinya bersama Esok di tempat pengungsian. Lail yang kehilangan orangtua dan tidak tahu kabar saudara - saudaranya, juga Esok yang kehilangan 4 kakaknya dan ibunya sedang dirawat di rumah sakit darurat membuat mereka menjadi dekat seperti adik-kakak dan saling menguatkan. Mereka banyak menghabiskan waktu bersama, membantu para relawan, menjenguk Ibu Esok, pergi ke lubang evakuasi kereta bawah tanah, berlindung di rumah - rumahan pastik dari hujan asam dan masih banyak lagi.
Hingga ketika situasi semakin membaik, seseorang mengadopsi Esok menjadi anak angkatnya dan Lail tinggal di panti sosial. Mereka pun semakin berjarak. Dari sini, banyak hal yang terjadi dan banyak hal tentang Esok yang tidak diketahui Lail. Lail menyibukkan diri dengan kegiatan kelas memasak, menjadi relawan dan masuk sekolah keperawatan bersama Maryam–sahabatnya. Esok pun sibuk dengan perkuliahan–dan proyek rahasianya di Ibu Kota. Sejak Esok memiliki orangtua angkat, mereka hanya bertemu sebulan sekali dan ketika Esok pindah ke Ibu Kota, mereka hanya bertemu setahun sekali–bahkan setelahnya dua tahun tidak bertemu.
Entah apa yang terjadi selama jangka waktu itu, yang membuat Lail ingin memodifikasi ingatannya, menghapus semua yang tersimpan di memorinya, nah yang ini cari tahu sendiri ya, gak akan aku spoiler HAHAHAHA.
So, banyak banget hal menarik yang aku suka dari cerita ini :
Pertama, alur cerita yang disajikan oleh Tere Liye, berawal dari Lail yang akan menjalankan operasi modifikasi ingatan, dan ia harus menceritakan semua memorinya se detail mungkin. Setiap potongan cerita Lail diselingi oleh respon paramedis yang antusias mendengar Lail, atau Lail yang tiba - tiba jadi emosional. Lumayan banyak plot twist juga, tapi masih bisa ketebak, sih. Karena itu, pembaca (aku maksudnya wkwk) jadi semakin penasaran dan semakin dibawa tenggelam, larut dalam ceritanya–sambil terus nebak - nebak apa yang akan terjadi selanjutnya. Itulah kenapa aku bisa selesain buku ini dalam satu hari ; se seru itu. Serius.
Kedua, Tere Liye menyajikan masalah bencana alam yang bikin aku jadi sadar kalau masalah - masalah itu mungkin banget beneran terjadi dan nggak tahu kapan, bisa jadi nggak lama lagi. Ini jadi reminder buatku sendiri untuk lebih memperhatikan dan banyak cari tahu lagi tentang bumi kita ini. Tere Liye juga ngebahas tentang dampak sosialnya, yang ngingetin aku untuk bersyukur dan juga ngingetin aku tentang saudara - saudara kita di belahan bumi lain yang kena bencana lagi butuh bantuan, jadi sedih juga 😢. Anyways, ngebaca cerita tentang Lail yang membalas takdirnya dengan menjadi relawan buat ngebantu orang disekitarnya, itu keren banget sihh dan rasanya heartwarming banget.
Ketiga, aku suka banget karakter Maryam yang iseng, humoris, tapi dewasa. Bestfriend material banget lah pokoknya. Lail yang tangguh, Esok yang jenius dan peduli pada sekitarnya, ibu Esok dan kue - kuenya, ibu Suri, dan semua karakter di buku ini. Semua karakter dalam buku ini unik dan aku jadi ngerasa dekat dengan mereka, kerasa real banget karakternya. Bahkan aku juga jadi ikutan kesel setiap si Claudia muncul, dan waktu walikota minta untuk—piiiip—kwkwkwkwk.
Itulah kenapa aku suka banget sama buku “Hujan” ini. Di dalam buku ini juga banyak detail - detail yang menggugah otak. Kayak cerita tentang AI, mobil terbang, printer 3D dan teknologi - teknologi menarik lainnya.
Bukunya nggak terlalu tebal, ada 320 halaman dan itupun gak akan kerasa lama banget pas bacanya karena ceritanya seru!
Setelah baca buku ini, aku jadi nggak sabar buat baca karya - karyanya Tere Liye yang lain! TBR aku selanjutnya adalah yang judulnya “Si Anak Kuat”. Kapan - kapan aku balik lagi kesini untuk cerita tentang bukunya yaa!
Mein favorite quotes from the book :
“Bukan seberapa lama umat manusia bisa bertahan hidup sebagai ukuran kebahagiaan, tapi seberapa besar kemampuan mereka memeluk erat - erat semua hal menyakitkan yang mereka alami.”
🌧 🚲 ☀️
(from previous blog, 25/06/2022 23.15)

Comments
Post a Comment